aku merebah dalam dipan
sungguh…
jiwaku melayang
disebuah selasa malam yang lain
kubuka diariku
kulukiskan kalimat padanya
aku bukan pesulap
yang bisa merubah hidup
aku bukan dewa
yang bisa menentukan takdir
aku hanyalah
pendengar suara-suara dalam kepala
yang menuntunku
yang mengajariku
apa arti dan jalan hidupku
hujan pancaroba…
hilangnya kupu-kupu
hujan datang menunggu kupu-kupu pergi
atau…
kupu-kupu pergi karena akan hujan?
apapun alasannya…
semua tak berarti
karena kupu-kupu telah pergi
da hujanpun telah datang
kebodohan memang mutlak
kecerdasan merupakan kebodohan yang relatif
aku memang bodoh
bodoh karena kecerdasanku
kebohongan memang mutlak
kejujuran itu kebohongan yang relatif
aku memang jujur
jujur atas kebohonganku
aku memang buta…
aku memang tuli…
aku memang bisu…
karena kaulah dirimu
maka….
aku tak sanggup
wajahmu trus terbayang
bibirmu trus menawan
matamu trus berbintang
serta…
jiwamu trus menyejukkan
ku tahu kau jauh
ku pernah usaha mendekat
tapi… kau makin jauh
saat aku mulai menjauh
kau telah hilang
tanpa peduli
apa aku sudah siap kehilanganmu
seandainya waktu bisa kutahan…
seandainya waktu bisa kuhentikan…
karena aku tak mau cepat kehilanganmu
biarkan aku terus berusaha lebih lama
biarkan aku bersenggama denganmu